Senipedia

Apa jadinya jika musik jazz dipadukan dengan kesenian reog? Pertanyaan itu dijawab musisi jazz, Bintang Indrianto pada gelaran Reyogjazz di Telaga Ngebel, Kabupaten Ponogoro, Jawa Timur, Minggu(22/10).
Bersama kelompok FESTIVAL yang beranggotakan Denny Chasmala (gitar), M. Iqbal (drums), Ronald Lisan (gendang), Sofie (flute), Madun (kendang), dan Eugen Bounty (clarinet/saxophonist), Bintang sukses menghipnotis penonton.
Harmonisasi dua irama dari latar belakang berbeda tersebut berhasil dilakukan dengan apik oleh Bintang dan kawan-kawan. Itu terlihat sangat jelas pada lagu ketiga berjudul yang berjudul Pecel Ponorogo.
Nuansa musik khas reog dan irama etnik Jawa Timuran terasa begitu kental pada lagu tersebut.
Pertunjukkan terasa makin sempurna ketika dikolaborasikan dengan gerak tubuh para penari reog. Mereka tidak hanya menghasilkan irama musik yang ritmik dinamis serta rancak, tetapi juga sebuah pementasan yang atraktif.
Kolaborasi musik jazz dengan reog yang tidak kalah apik juga disuguhkan gitaris pentolan YK Band, Yusuf Koen. Dalam proyek yang diberi nama Reyog Jazz itu Yusuf berkolaborasi dengan musisi reog.
Tadinya agak sulit membayangkan hasil padupadan dua seni berbeda itu dalam satu panggung. Ternyata sungguh memukau dan sangat bisa dinikmati, terbukti mendapatkan banyak aplaus dari penonton.
Reyogjazz yang mengusung konsep menikmati musik jazz dari telaga di atas bukit ini merupakan buah kerjasama Pemerintah Kabupaten Ponorogo dengan Wartajazz. Festival Director Reogjazz yang juga Managing Director Wartajazz, Agus Setiawan Basuni mengungkapkan, pertunjukkan seperti ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia.
“Ini akan semakin memperkaya khazanah pertunjukkan musik jazz di Tanah Air,” katanya.
Secara keseluruhan konser pertama ini terbilang sukses. Apalagi sejumlah penyanyi dan musisi jazz dari dalam dan luar negeri ikut ambil bagian. Bisa dikatakan, Reyogjazz merupakan pertunjukkan bertabur bintang.
Selain Bintang Indrianto-FESTIVAL, ada pula Tompi. Penyanyi bersuara khas itu tampil di penghujung acara bersama Nita Aartsen Quinted yang terdiri dari Gustu Brahmanta , Doddy Sambodo, Afan Latanette, dan seorang trumpeter asal Perancis, Jean Sebastien. Lalu ada pula Diana
Liu, penyanyi asal Malaysia yang tampil bersama Udin Jazz Peacock feat Adi Darmawan, Tiwi Shakuhachi, dan Syaefuddin Dimyati. Tidak kalah menariknya ialah penampilan musisi Ravish Monin dan Richard Keyser yang tergabung dalam Electronic Dua: Tarana yang berasal dari New York.
Kehadiran penyanyi dan musisi itu mampu memuaskan dahaga pecinta jazz yang tidak hanya datang dari Ponorogo dan sekitarnya, tetapi juga dari Jawa Tengah dan bahkan luar Pulau Jawa.
Sebagai tuan rumah, komunitas jazz Ponorogo juga tidak ketinggalan ambil bagian dalam kemeriahan pementasan yang berlangsung hingga Senin dinihari (23/10) itu. Mereka tergabung dalam grup Mrs. Holdingsky dan The Apprentice-Jazzthilan Community. The Apprentice digawangi oleh para remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Ini sekaligus membuktikan musik jazz berkembang dengan baik di kabupaten tersebut.
Reyogjazz mempunyai daya tarik dan keunikan tersendiri sebagai sebuah pertunjukkan musik luar ruangan, karena dipadukan dengan keindahan panorama Telaga Ngebel sebagai salah satu potensi wisata alam di Bumi Reog.
Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni dalam jumpa wartawan pada malam sebelum pementasan menuturkan, ide memadukan jazz dan reog muncul sejak setahun yang lalu. Dirinya melihat ada keunikan dan daya pikat yang melekat erat pada keduanya.
Ipong mengatakan, jazz sebagai musik sudah mendunia, dan banyak difestivalkan. Jazz juga unik, menarik, juga sulit dimainkan. Ada pendapat kalau orang sudah bisa memainkan jazz, ia bisa memainkan banyak musik.
Reog sebuah atraksi seni mempunyai musik yang cukup dinamis. Itulah sebabnya reog juga mendunia. Dua pekan lalu reog tampil di Boston. Reog juga pernah tampil di Korea Selatan, Hongkong, dan Amsterdam.
Lalu munculah gagasan bagaimana kalau dua kesenian ini dikolaborasikan. Ide itu kemudian ditindaklanjuti dengan meminta pendapat dan berdiskusi dengan komunitas jazz dan reog serta berbagai pihak.
Setelah beberapa kali tertunda, kolaborasi impian tersebut akhirnya bisa direalisasikan. “Reyogjazz ini merupakan bentuk apresiasi kami terhadap musik jazz. Kedua, ini upaya mengangkat Ponorogo dengan kesenian reognya supaya lebih dikenal di kancah nasional dan internasional,” kata Ipong.
Kabupaten dengan luas wilayah 1.371 [1],78 kilometer persegi pada ketinggian 92-2.563 [2] meter di atas permukaan laut ini menyimpan banyak keindahan pemandanan alam. Salah satu diantaranya Telaga Ngebel.
Lokasi wisata yang berada di lereng Gunung Wilis ini bahkan disebut-sebut memiliki pemandangan mirip sebuah tempat di Swiss. “Tapi belum terekspos. Mudah-mudahan dengan adanya Reyogjazz yang akan kami jadikan agenda tahunan ini bisa lebih memopulerkan Ponorogo ke dunia luar. Pada penyelenggaraan tahun depan akan dilakukan pada saat bulan purnama, pasti akan sangat indah,” kata Ipong lagi. (OL-3)
Leave A Reply: