Senipedia

Solopos.com, SOLO — Kesenian wayang Indonesia harus menjadi contoh bagi negara-negara di Asia karena memiliki nilai lebih dibandingkan dengan kesenian negara lainnya. Karena itu, Indonesia harus menjadi memimpin dalam dunia seni pertunjukan wayang di Asia.
Pernyataan itu diungkapkan oleh budayawan asal Solo, Bambang Murtiyoso, dalam gelaran seminar bertaraf internasional dengan tema Prospek Wayang Menuju Era Asia, di Argo Budoyo Open Stage Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Sabtu (22/3/2014).
Menurut Bambang, di negara Asia lainnya, seni pertunjukan boneka hanya dinikmati dan dimainkan oleh anak-anak. Sedangkan di Indonesia, permainan wayang dimainkan oleh orang dewasa. “Bukan sekadar untuk mainan, tapi ada nilai spiritualitasnya,” ujar Bambang saat seminar.
Ia menambahkan bentuk wayang sendiri juga sudah unik dan cara menampilkannya pun berbeda dibandingkan negara-negara lainnya.
Sementara itu, Dewan Penasihat Institut Studi Indonesia Amerika (ISIA) Kathryn Emerson mengatakan kesenian wayang sudah sangat dikenal oleh masyarakat kalangan elite di  Amerika, Eropa dan Jepang.
Meskipun setiap penonton diharuskan membayar tiket US$50, namun warga Amerika Serikat sangat antusias menyaksikan pertunjukan wayang. Menurut perempuan yang akrab disapa Kitsie ini, Amerika Serikat tidak punya sejarah panjang mengenai kesenian tradisional. Sedangkan Indonesia memiliki kesenian wayang yang sudah ditampilkan lebih dari 2.000 tahun lalu.
“Lakon yang dimainkan pada 2.000 tahun silam, sama dengan lakon wayang yang dimainkan oleh dalang zaman sekarang. Cerita seputar cinta, kekuasaan dan sebagainya ternyata masih relevan hingga saat ini,” terang Kitsie.
Selain itu, wayang juga termasuk kesenian yang ditampilkan secara komplit, sebab bukan hanya menampilkan pertunjukan wayang, tapi juga ada kolaborasi seni rupa, seni musik, lawak, sastra dan sebagainya.
“Amerika Serikat tidak punya sejarah tentang seni  boneka. Kalau pun ada, itu hanya sebagai selingan,” ujar Kitsie yang fasih berbahasa Indonesia itu.
Beda lagi pandangan dari arkeolog asal Jerman, DR Lydia Kieven. Menurut Lydia, wayang adalah ciri khas dari kesenian masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia telah meneliti  berbagai candi di kedua provinsi tersebut dan menemukan fakta kesenian wayang sudah ada sejak zaman kerajaan. Di Candi Prambanan, misalnya, dia menemukan referensi relief kata Mawayang.
“Dalam relief candi sudah ada gambaran wayang, seperti hiasan kepala wayang dan sebagainya. Orang zaman dulu juga memiliki kreativitas membuat tokoh Punakawan,” papar dia.
Kendati kala itu Islam masuk ke Indonesia, namun wayang sama sekali tidak punah. Menurut Lydia, itu menunjukkan local genius dari masyarakat Jawa.
Kendati demikian, dia sangat menyayangkan setiap kali ada pertunjukan wayang, selalu ada pengeras suara yang memekakan telinga. Menurut dia, pengeras suara itu sangat mengganggu suasana dan cerita yang dibangun oleh dalang. “Boleh saja pakai pengeras suara, tapi tidak perlu terlalu keras karena suara yang dikeluarkan dari gamelan sudah cukup bagus,” ujar Lydia.
Dosen FMIPA UNS sekaligus anggota Institut Javanologi, Prof. Sugiyarto, mengatakan nilai dan simbol yang terkandung dalam wayang sangat selaras dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang hidup di daerah tropis. Karena itu, wayang tidak bisa dipaksakan untuk ikut dengan budaya barat. Demikian juga budaya tersebut tidak bisa dicampur dengan kultur Arab.
Gambaran tersebut antara lain terdapat dalam gunungan wayang yang menampilkan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Selain itu, wayang setidaknya juga harus memiliki tiga unsur. Bukan hanya semata untuk tontonan, tapi juga berisi tatanan dan tuntunan. “Tatanan dalam wayang memiliki beberapa unsur yang tidak bisa dipisahkan, seperti dalang, pemain gamelan, sinden dan sebagainya. Semua itu harus harmonis dan saling melengkapi,” ujar Sugiyarto.
Ia melanjutkan, keharmonisan dalam wayang adalah sebuah keharusan, sebab itu menunjukkan keragaman. Namun meskipun beragam, satu sama lain tidak boleh melebihi.
Leave A Reply: